Tampilkan postingan dengan label Makanan dan Resep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan dan Resep. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2018

RESEP Siomay Ayam ala Kate Middleton KW Limolas

Haiiii, pagi ini aku mendapatkan wangsit untuk memasak ayam giling yang ada di freezer.
Langsung kepikiran, siomay ayam! Apalagi, aku punya kulit pangsit nganggur.

Siomay yang kubuat ini, bukan siomay abang-abang yang pake bumbu kacang itu yaa.
Ini siomay ala orang Cina, yang dimakan gitu aja. Boleh juga dibuatkan acar timun, atau saus sambal yang asam segar.

Siomayku ini, rasanya kalo digigit kres ... kres ... krenyes, nggak lembek, nggak seret, nggak juga kenyal-kenyol kayak cilok. Enak lah :)
Kalau baca-baca di google, ada yang ngasih tau rahasianya supaya krenyes-krenyes gitu dikasih agar-agar bubuk.
Wedew, eike ga berani spekulasi. Aku cuma pake putih telor.

Barangkali ada yang khilaf pengen nyoba masak siomay, boleh nyontek resepku. Tapi, ini seleratif ya. Kamu boleh kok menghapus atau menambahkan bumbu lain sesuai seleramu.

Bahan:
1/4 kg daging ayam giling yang baru keluar dari freezer (bagian paha). Akan lebih enak lagi jika dicampur sedikit udang.
2 sendok makan tepung maizena
1 butir telur, diambil PUTIHnya saja.
2 siung bawang putih, dicacah halus, goreng sebentar sampai wangi, masukkan ke ayam gilingnya.
1 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
Lada, garam (cicip ya, agar nggak keasinan karena udah ada saus tiram dan kecap asin)
Penyedap jika suka (JANGAN PAKAI ROYCO or MASAKO. Mereka adalah perusak rasa masakan haha).
1 helai daun bawang, iris tipis.
1/2 batang wortel, iris kecil2. Sebagian untuk dicampur ke adonan, sebagian untuk hiasan atas.
Kulit pangsit beli di supermarket

Cara memasak:
1. Campur semua adonan jadi satu, cicipi (jilat aja dikit, jangan ditelan euy nanti sakit karena makan makanan mentah)
2. Bungkus adonan dengan kulit pangsit, taburi wortel sebagai hiasan
3. Kukus selama 30 menit
4. Angkat dari dandang, siap disajikan.

Silakan mencoba ^^
Untuk satu resep ini, bisa jadi 16 siomay ukuran medium.






Oya, mengapa daging gilingnya lebih baik kondisi dingin? Karena oh karena, aku nggak tau hahaha. Tapi itu membantu menjadikan siomaynya krenyes-krenyes. Coba aja liat resep bakso, biasanya dicampur es batu kan?




Rabu, 30 Juli 2014

Kue Tat, kue khas Bengkulu yang manis dan legit ^^

Dulu, saat masih kuliah di Jogja, beberapa teman kost saya berasal dari Bengkulu.
Dari mereka, saya sering mendengar tentang kue tat ini. Kata mereka, kue tat itu semacam nastar tapi ukurannya besar.

Saya hanya manggut-manggut. Saya nggak terlalu suka nastar, sih. Bikin jigong, hehe. Tapi saya suka selai nanasnya. Rasanya unik dan manis. Nastar raksasa, seperti apa ya?

Saat itu, saya sudah berpacaran dengan suami yang juga berasal dari Bengkulu. Dari dia, saya semakin yakin bahwa kue tat ini memang kue nastar raksasa.

Setelah menikah 12 tahun, akhirnya saya dan suami berkesempatan untuk mudik ke Bengkulu. Untuk suami sendiri, ini adalah mudik pertamanya setelah 15 tahun. Lama ya?
Yah maklum saja, kedua orangtua suami sudah meninggal. Selain itu, kondisi ekonomi kami yang saat itu masih pasangan muda full kredit (maksudnya banyak kreditan, hihi) tidak memungkinkan kami untuk mudik.

Belum lagi membayangkan mudik membawa batita balita. Hoho, betapa ribetnya ^^
Namun, akhirnya kami ada rejeki untuk bisa mudik. Dan, saat mudik itu, yang terpikir di benak saya hanyalah MAKAN, MAKAN, dan MAKAN.

Saya kepengen mencicipi semua makanan Bengkulu yang belum pernah saya makan seumur hidup. Termasuk, kue tat.
Sayang, saat berada disuguhi kue tat di rumah salah satu kakak, saya tidak berminat. Saat itu saya sudah kekenyangan makan banyak makanan lain, dan kue tat tidak terlalu memesona saya.

Nastar, paling ya gitu-gitu aja rasanya. Itu pendapat saya, apalagi saat itu banyak kuliner lain yang jauh lebih menggoda.

Rasa kecanduan saya pada kue tat muncul saat kami pulang ke rumah, dan kakak ipar saya memberi setumpuk kue tat untuk oleh-oleh.
Di rumah, saya pun tidak langsung memakannya. Ada banyak makanan lain yang juga menggoda untuk dimakan. Lempok, manisan terong ungu, dll. Jadi, untuk sementara kue tat-nya dipinggirkan dulu.

Saat oleh-oleh mulai habis, saya pun memotong kue tat dan mencicipinya. Olala, ternyata rasanya super enak!
Nggak kayak nastar kok, karena kue tat ini lembut dan empuk. Bukan seperti nastar yang rapuh dan ambrol saat dimakan.
Selain itu, selai nanasnya enaaaaaak banget. Apalagi ditambah parutan keju di atasnya. Perpaduan manis dan asin bener-bener enak!

Setelah beberapa hari, akhirnya persediaan kue tat saya habis. Sampai akhirnya suami Mbak Tatit ada di Bengkulu dan saya memberanikan diri untuk titip kue tat pada beliau.
Sayang, saya nggak tahu mereknya, sehingga suami Mbak Tatit pun manut saja dibelikan sembarang merek oleh koleganya di Bengkulu.

Pertamanya saya pikir, ah yang namanya kue tat mah sama aja. Pasti rasanya juga enak. Eh tapi ternyata lain hihihi.
Yang dibawa suami Mbak Tatit rasanya tidak se maknyus kue tat yang dibeli oleh kakak ipar saya. Dan saat saya cerita ke kakak ipar saya, beliau pun ketawa-ketawa dan menyalahkan saya kenapa tidak SMS dia saja sehingga dia bisa beli dan menitipkannya pada suami Mbak Tatit?

Nah, buat teman-teman yang sedang berada di Bengkulu, atau ingin makan kue tat yang enak (menurutku) coba beli saja yang merek Ricka ini.
Baru-baru ini aku dikirimin lagi oleh kakak iparku, sebanyak tiga loyang besar dan tiga loyang kecil. Lumayan, untuk pelepas rindu :)
Kata kakakku sih, belinya nggak di toko, Tapi langsung ke alamat rumahnya.

Ini aku fotoin penampakannya ya. Ciyus, rasanya enak banget.




Minggu, 15 Desember 2013

Kue Bola Cokelat

Kue yang ini gampang banget bikinnya. Aku sering bikin, dan bahkan Edgard pun bisa membuatnya.

Biasanya, kami membuat dari sisa-sisa biskuit yang sudah tak termakan. Tahu sendiri, kan? Anak-anak kalau makan Biskuat, atau roti marie, biasanya ada sisa yang dibiarkan begitu saja. Disuruh ngabisin ogah, dan akhirnya disimpan aja di dalam toples. Lama-lama, biskuit sisa pun menumpuk.

Demikian juga kalau habis Lebaran. Kadang, ada aja yang memberi Monde, atau Khong Guan. Dan anak-anak selalu memilih yang enak-enak, dan meninggalkan yang nggak enak-nggak enak, haha.

Mari disulap saja deh biskuit sisa ini.

Hancurkan mereka sampai lembut, kalau malas sih bisa pakai blender. Wus wus wus, langsung jadi serbuk.
Lalu, uleni dengan susu kental manis, dan mentega cair (sesendok makan mentega yang dicairkan). Uleni saja sampai bisa dipulung bentuk bola.

Setelah jadi bola, gulingkan di atas meises. Jadi deh ^^

Oya, kalau punya kacang sisa Lebaran, bisa juga lho dimasukkan. Remuk aja kacangnya sekalian. Rasanya jadi enak deh.

Ini penampakan jadinya. Huenak banget! Meisesnya jangan pake yang murahan ya, karena meises yang enak akan menutupi rasa biskuit yang ga enak (tau sendiri kan, rasa biskuit Khong Guan kayak apa hehehehe).

Happy cooking ^^

Sabtu, 14 Desember 2013

Panekuk isi Vla Cokelat yang Yummy ^^

Entah apa yang terjadi pada diriku. Rasanya akhir-akhir ini aku kerasukan roh memasak, hahaha. Pengen nyoba ini dan itu, tapi tentunya yang terjangkau. Maksudku, terjangkau dengan akal pikiranku. Tentu, nggak mungkin aku pengen membuat rainbow cake, atau cookies yang cantik-cantik.
Selain nggak punya oven, otakku juga lemot untuk mencerna aneka ingredients yang asing di telingaku. Jadi, milih yang gampang aja deh bahan-bahannya.

Di rumah, aku selalu sedia terigu, telur, dan mentega. Itu barang wajib. Maklum, tiap hari makan roti tawar jadi harus ada mentega. Tiap hari nggoreng telur, jadi kudu ada telur. Dan terigu aku gunakan untuk simpenan aja sih.  Kalo nemu pisang, kan bisa bikin pisang goreng. Ada sayuran sisa, kan bisa bikin bala-bala alias bakwan sayuran.

So, apa resep yang mudah tapi yummy?
Ada satu lagi resep dari Omaku yang amat aku gemari. Yaitu panekuk!
Kalau orang sekarang sih bilangnya, kue dadar. Isinya vla. Bisa vla kuning rasa vanila, bisa juga vla cokelat.

Nah, karena beberapa saat yang lalu aku mendapat oleh-oleh cokelat bubuk yang cukup banyak dari Mbak Renny Yaniar (dari pameran cokelat), maka aku memutuskan untuk membuat panekuk isi vla cokelat. Ternyata, tak sesulit yang kukira kok.

Untuk kulitnya, juga mudah.
Campurkan cokelat bubuk dan terigu +/- 300 gram, kasih gula dikiiit dan susu cair + air. Aduk-aduk sampai tidak mringkil. Lalu, masukkan satu butir telur. Aduk-aduk terus sampai adonannya mulus. Ingat, tidak encer, tidak juga terlalu kental. Secukupnya, seperti di foto ini.


Lalu, panaskan pan teflon 20 cm, dan olesi dengan mentega (pakai kuas *ya iyalah*)
Setelah pan panas, dadar deh satu per satu kulitnya. Sayang, aku kurang lama mendadarnya, jadi kulitnya kurang ada efek "totol-totol". Biasanya, panekuk yang dibuat Oma dan Mamaku, kulitnya bertekstur totol. Punyaku agak licin, tapi gapapa yang penting enak. Namanya juga pengalaman pertama, kan?


Setelah kulit sukses (nggak sobek, hehe), maka mari membuat vla.
Huahaha, lagi-lagi sih nggak pakai takaran. Ilmu kira-kira. Maklum ya, aku nggak punya timbangan, dan aku pakai feeling aja.

Jadi, aku mencampur bubuk cokelat dan terigu, dan gula. Kuaduk sampai rata, lalu kuberi susu cair dan air. Kuaduk terus sampai rata. Nah, adonan untuk vla ini malah harus encer. Kalau kita tarik, kudu bunyi "krucuk krucuk" gitu.

Cicipi dulu, udah manis kah? Kalau sudah manis, silakan ditaruh di atas kompor api kecil, sambil terus diaduk.

Saat adonan mulai panas, dia akan mulai mengental. Jika kamu merasa terlalu kental (ngaduknya berat euy) maka kamu bisa menambahkan air (awas, cicipi juga kemanisannya. Jangan sampai rasanya jadi kurang manis gara2 kita tambahkan air melulu).

Sebaliknya, jika kamu merasa kok encer terus dan nggak kental-kental? Matikan dulu apinya. Lalu ambil satu atau dua sendok terigu, cairkan dengan sedikit air. Masukkan cairan terigu tadi ke adonan di atas kompor tadi. Nyalakan lagi kompornya, aduk lagi.

Wes, pokoke pake ilmu kira-kira deh ^^

Setelah kekentalan cukup, dan adonan sudah blekutuk-blekutuk alias meletup-letup, matikan kompor.
Lalu, ambil satu sendok mentega, dan teplokkan (apa sih bahasa Indonesianya) di atas adonan, dan aduk.
Apa fungsi mentega ini?
Tak lain tak bukan agar penampilan vla mu ciamik. Mengilat, menggoda iman hihihi.



Selesai sudah prosesnya. Gampang kan? Paling cuma butuh waktu satu jam kok untuk masak ini. Yang agak lama cuma proses bikin kulitnya. Kan kudu mendadar satu per satu.

Setelah itu, taruh vla di atas kulit, dan gulung deh. Masukkan ke lemari es, karena kalau dimakan dingin jauuuuh lebih nikmat.

Oya, nyimpennya dalam wadah tertutup ya. Kalau nggak, nanti kulitnya bisa kena angin dan agak keras. Kalo ditaruh wadah tertutup, tetap mak nyus.

Masalah model melipat dan menggulung, bebas saja. Yang kulakukan di sini mencontek model original dari Oma ku dulu. Hanya digulung tok. Nggak dilipat-lipat.

Happy cooking ^^

Minggu, 08 Desember 2013

Resoles Ragout, ternyata aku bisa!

Entah apa yang terjadi pada diriku. Beberapa hari terakhir, aku benar-benar ngidam makan resoles ragout yang enak. Yang HARUS benar-benar enak, seperti yang biasa disajikan dulu oleh nenekku.

Sedikit tentang nenekku. Beliau adalah anak orang kaya di masanya, dan bukan orang Chinese totok yang masih, well you know what I mean, berponi dan pake celana silat. No, nenekku nggak kayak gitu.

Tuh, penampilan nenekku saat masih imut, diapit oleh dua kakak laki-lakinya. 



Nenekku berpendidikan Belanda, dan dia pakai gaun dan topi ala wanita-wanita Eropa dan hi heels yang menawan. Jadi, otomatis, selera makannya pun yang berbau-bau Belanda.

Nah, saat aku kecil dulu nenekku kadang memasak yang enak-enak begini. Kenapa aku bilang kadang? Karena saat itu nenekku sudah bukan orang kaya lagi, hihihi. Jadi, kadang-kadang saja beliau masak enak. Salah satunya resoles ragout.

Singkat cerita, karena aku demikian ngidam parah, maka aku memutuskan akan membuat sendiri resoles ragoutku! Hebat ya, horeee. Dian yang cuma bisa masak oseng-oseng dan cah, mau masak resoles ragout! *plok plok plok*

Maka, mulailah aku BBM mamahku. Dari beliau, aku mendapat resepnya bla bla.
Inti dari resep masakan berbau "londho" itu sih sebenarnya gampang. No bawang putih!
Yang digunakan hanyalah bawang merah yg ditumis mentega (or bombay, tapi lebih sedap bawang merah yg kecil-kecil) dan merica + pala, serta daun bawang besar + seledri.

Kalian bisa coba deh basic bumbu ini untuk bestik, dan sup ayam/daging. Haujek!

Kembali ke resoles ragout.

Saya pun memberanikan diri untuk uji nyali bikin resoles ragout ini. Belanja belanja, dan sampai nggak bisa tidur mikirin hari H di mana saya akan membuatnya. Lebay? Yes, I am very lebay. Habis gimana ya, ini kan pengalaman pertama masak yang "aneh".

Mama saya tidak memberi takaran detil berapa gram, berapa sendok dll yang harus saya pakai. Jadi, saya mengandalkan ilmu kira-kira dan feeling. Ternyata, rasanya enak kok!

Cara membuatnya begini:
Tumis bawang merah (secukupnya) dengan mentega. Setelah harum, masukkan potongan wortel rebus (saya pakai 1 wortel ukuran besar) dan suwiran ayam rebus. Sreng sreng sreng, lalu tambahkan +/- 150 ml kaldu ayam (sisa rebus ayam tadi) dan +/- 200 ml susu cair Ultra.
Sementara itu, cairkan +/- 5 sdm terigu, dengan air. Kekentalannya sih kira-kira saja, yang penting biar nggak mringkil-mringkil.
Nah, setelah si adonan kaldu susu tadi mendidih, masukkan cairan terigu tadi sambil terus diaduk sampai mengental (kira-kira kekentalannya sampai kayak bubur sumsum).

Bumbui dengan merica, pala, garam dan GULA. Kalau mau sedikit ditambahkan kaldu instan sapi juga gpp. Tapi saya nggak mau, ntar ragout saya rasa Royco. Ogah ah.

Kalau sudah kental, bisa masukkan irisan daun bawang besar + seledri cincang. Aduk-aduk sampai matang dan kekentalan adonannya pas.

Udah deh, ready!

Oya, isian untuk ragout ini terserah ya. Aku menambahkan putih telur rebus (nemu di pasar) dan sosis sapi Bernardi. Tentu penambahan sosis sapi ini membuat bertambah nikmat. Eh, apalagi kalau ditambah daging asap. Bisa pingsan deh saking enaknya.

So, pembuatan ragout SUKSES besar. No doubt. Enak banget!






Selesaikah tugasku sampai di sini? Oh tentu tidak, karena akan ada tahapan yang lebih sulit yaitu membuat kulit!

Aku sempat galau. Karena aku punya dua ukuran wajan. Satu 20 cm, dan satu 12 cm. Kalo 20 cm kebesaran, sehingga aku memutuskan untuk memakai ukuran 12 cm. Ternyata, keputusanku SALAH BESAR!!

Ternyata, kalau ukuran 12 cm bikin aku kesulitan melipat resolesnya. Bayangkan, ragoutnya mbleber ke mana-mana dan jari jemariku yang segede pisang kepok ini tak bisa trampil melipat. Dalam hati, aku misuh-misuh sendiri pada diriku. Why I'm so stupid? Bukannya sempet mikir mau pakai 20 cm?

Ah tapi sisi positifnya adalah, kulit resoles buatanku SEMPURNA!
Sempurna artinya, tipis, tapi tidak mudah robek.

Sekali lagi, takaran bahannya pun kira-kira. Huehehehehe.
2 butir telur +/- 200 gram terigu, kasi susu cair (sisa UHT yang dibuat ragout tadi, kira2 50ml-an), dan air. Aduk (atau kalo mau gampang, blender biar nggak mringkil).

Aduk sampai rata dan halus adonannya (siap dadar). Pokoknya kira-kira deh :p

Lalu, dadar satu per satu di teflon. Lihat, bagus kan?


Setelah itu, proses melipat benar-benar membuatku berkeringat dingin. Aku tak berkutik, tak berani memberi isi ragout yang banyak. Dan, celakanya lagi, tepung panir yang kubeli ternyata adalah tepung panir untuk TEMPURA! Hoaa, ternyata beda ya? Pantesan kok buesar-buesar butirannya.

Jadi, setelah dilipat, maka si resoles ragout ini dicelup ke kocokan telur dan digulingkan di atas tepung panir.





Lihat kan? Sudah ada tanda-tanda kekempisan dan kekosongan rongga di dalam resoles itu kan? Hoaa, hoaaa. Trus, lihat deh panirnya yang gede-gede itu.

Tapi apa mau dikata, the show must go on!



 Dan akhirnya, tralalalala! Kalau ibarat tulisan, resoles ragout yang kubikin ini adalah tulisan yang amat bagus, tapi EYD nya kacau berantakan! Maklum, tulisan seorang pemula yang penuh semangat, namun belum terampil mengeksekusi ^^


Resoles ragoutnya agak kurus dan kempis ya? Hehehe. Tapi Edgard bilang, rasanya enaaaak sekali dan dia makan bolak balik.

Tapi terus terang, aku masih penasaran. Masa sih aku bego banget nggak bisa bikin bentuk yang lebih cantik?
Ragoutnya kan masih sisa separuh mangkuk. Masih bisa kuolah, kan?

Namun, sisi lain dari diriku mengatakan. Untuk apa? Kan, Edgard bilang ragoutnya dimakan gitu aja dah enak. Nggak usah digulung-gulung juga gapapa (kata Edgard).

Lalu timbul ide, olesin aja ke roti tawar, lalu panggang. Beres.

Tapi oh tapi, naluri kewanitaan dalam diriku tertantang. Hihihi, masa sih aku menyerah?

Maka, keesokan harinya aku bikin dadar lagi dengan teflon 20 cm!
Dan, seorang teman memberitahuku cara membuat panir sendiri yang praktis. Potong aja kulit roti tawar (kebetulan, Gerald nggak suka kulit roti tawar, jadi kami selalu membuangnya).

Kulit roti tawar itu aku potong kecil-kecil dan aku panaskan di teflon sampe kering. Lalu, masukkan blender. Wusss wuss wuss, jadilah tepung panir.

Aih, bego banget ya aku. Kenapa nggak dari kemarin? Panir yang ini begitu sempurna. Halus seperti pasir pantai Panjang ^^

Dan, lihat betapa gemuknya resolesku yang ke-2. Gemuk dong, karena kulitnya lebar sehingga aku bisa memasukkan ragout sebanyak yang kuinginkan :))


Taraaaa! Ternyata benar. Practice makes better ^^

Resoles ragout ku gemuk, full of ragout yang enak, kulit yang pas, dan butiran tepung panir yang lembut. Alamak. Boleh dong aku memuji-muji diriku sendiri, hahaha. Norak? Memang sih.


Nah, dari kisah pembuatan resoles ragout ini, aku jadi belajar sesuatu. Bahwa, sebenarnya kalau kita mau, kita bisa kok.

Yang penting apa sih? NIAT. Kalau aku sudah NIAT, maka badai topan menghalang pun akan kujabanin.

Sebaliknya, kalau nggak niat, ya malas.

Makanya, jangan paksa aku untuk memasak. Jangan paksa aku untuk berdandan. Jangan paksa aku untuk menjahit. Karena, aku tipe orang yang semakin dipaksa dan disindir, maka semakin mogoklah diriku.

Tapi kalau diriku sendiri sedang NIAT (yang entah berapa tahun sekali munculnya), maka aku akan menerabas dengan gagah berani dan menghasilkan karya yang sempurna paripurna maha dahsyat dan hebat.

Halah, baru bisa membuat resoles ragout aja kok hebohnya minta ampun?

Biarin dong. Buat perempuan yang nggak biasa masak, ini rekor lho. Enelan!