Senin, 23 September 2013

Today, 7 years ago ...

Today, seven years ago ...

I am a blessed mother. God has given to me two gorgeous boys ^^

23 September 2006 was the date when my Gerald was born. He looks very handsome, and calm.

Time goes by, and now he is seven.
I will miss his baby period. But for me, he will be my baby forever.


Gerald, I love you so much.
Please forgive me for yelling to you (most all the time haha)

I know that you are a kindhearted boy.
I know that you have pleasant personality.
Everybody likes you, even the security in our neighborhood.

You are a funny boy, so everybody calls you 'Mr.Bean'

My son, please stay healthy, stay happy, stay gorgeous, stay being kindhearted, and most of all, please love your God and your family.

Happy 7th birthday, my son.
Nothing I can give to you except my every second pray.

Love you love you and love you!









Makasih fotonya ya Putri ^^

Selasa, 17 September 2013

PROLOG Novel LUPITA - LU PIkir gua pengemis cinTA!





PROLOG

Aaah, what a cute name!”
“Namamu lucu, ya?”
“Kayak nama di buku dongeng.”
Itulah reaksi orang-orang, saat aku menyebutkan namaku, Lupita.

Hmm, andai saja mereka tahu, apa arti di balik namaku.
Sama sekali nggak lucu! Ya, Mama tak bermaksud melucu saat memilih nama itu untukku. Bagaimana mau melucu, jika seorang pria yang Mama sebut “suami”, malah minggat demi wanita lain? Minggatnya pun, pas di hari Mama melahirkan aku.
Sempurna sekali, kan?
Sakitnya pasti seperti luka yang dikucuri cuka, garam, lalu dipanggang di atas bara api.

Namun, Mama adalah perempuan yang kuat. Dia bukan tipe wanita yang meratapi cinta, apalagi mengemis cinta.
“Lu pikir gua pengemis cinta?!!”

Konon itu yang Mama teriakkan saat rahimnya berkontraksi dan mengalami bukaan sepuluh. Aku sulit membayangkannya, bagaimana mungkin Mama bisa berpikir untuk meneriakkan hal semacam itu saat sakit mendera?

Dan… itulah namaku. Lupita, singkatan dari lu pikir gua pengemis cinta?

Seiring bertambahnya usiaku, Mama terus mencekokiku dengan kisah pengkhianatan Papa.
Oya, Mama juga menunjukkan foto Papa padaku. Alasannya sih, supaya kalau aku bertemu Papa—entah di mana dan kapan—aku bisa menonjoknya.

“Hajar sampai bonyok.” Mama menatap foto Papa dengan tatapan yang mengingatkanku pada tatapan ibu tiri di kisah Snow White saat memegang apel beracun dan memaksa Snow White untuk memakannya.

Sepertinya, “racun” kisah pengkhianatan yang Mama beberkan padaku, memengaruhi obsesiku pada pria. Aku tak tertarik pada pria lokal. Menurutku, pria lokal bukanlah pria setia. Aku ngomong begini bukan tanpa bukti.

Lihat saja tayangan infotainment. Hampir tiap hari berisi berita artis pria yang kawin lagi, atau selingkuh. Betul kan? Itu baru artis lho. Pejabat? Pebisnis? Sopir? Tukang siomay? Tukang parkir? Tukang jagal sapi?

Aku cukup beruntung. Dunia kerjaku mendukungku untuk berkenalan dengan banyak pria bule. Dari bincang bincangku dengan mereka, aku menarik kesimpulan bahwa mereka itu romantis dan amat menghargai wanita.

Aku juga menyimpulkan, once a bule said “I love you”, he really means it.
Nggak kayak pria lokal yang doyan mengumbar kata-kata cinta!

Nah, aku berharap, kisah hidupku akan berakhir seperti kisah di buku dongeng.
Live happily ever after,
Princess Lupita menikah dengan Prince Charming Bule.
Yippie!
Namun ternyata, hidup itu tak semulus paha noni Belanda, Jenderal!
Here comes my story…

Senin, 16 September 2013

Mudik yuk Mudiiiik .... (Catatan saat mudik ke Bengkulu, 1-11 Agustus 2013)

Bulan Januari 2013, adalah bulan royalti ^^

Saat melihat angka royalti yang not bad, saya langsung tergiur untuk pergi ke manaa gitu. Padahal, Oktober 2012 kami baru saja ke Singapore. Nah, enaknya ke mana ya?

Saya dan suami pun bersepakat, ke KL!
Akhirnya, saya browsing-browsing harga tiket pesawat ke KL untuk Lebaran. Huaa, ternyata mahal-mahal.

Lalu, saya iseng browsing ke Bengkulu (entah, tiba-tiba kok jari jemari saya tergerak untuk klik Sub-Bengkulu) dan ternyata harga tiket PP untuk satu orang sekitar Rp. 2,2 juta!
Berarti, orang 4 kudu bayar Rp. 8.8 juta dong ya?

Saya pun usul sama suami, yuk kita ke Bengkulu. Dia pun merenung, melamun, dan lalu berpikir keras. Hihihi, kok malah saya yang semangat ngomporin beliau untuk mudik ke kampung halamannya ya?

Saya tau, mungkin beliau enggan karena sudah tak ada orangtua lagi. Ayah dan ibunya sudah meninggal, dan di sana tinggal kakak-kakak dan adik-adiknya.

Namun, keraguannya tak lama. Dia pun ACC, dan yippiee .... kami beli tiket!


Anak-anak pun tak kalah bersemangat, maklum aja, mereka belum pernah tahu kampung bapaknya sih ^^

Dan asal tahu saja, suami sudah tidak pulang Bengkulu selama 15 tahun. Huaaa ...

Akhirnya, tanggal 1 Agustus 2013, berangkatlah kami dengan Lion Air, menuju ke Bengkulu.

Hal pertama yang kami lakukan setelah sampai di sana adalah, ziarah ke makam Ayah. Huaah, makamnya penuuuh, kami sampai harus ajojing disko melewati makam-makam yang lain untuk bisa mencapai makam Ayah. Untung, ada Fajri, kakak ipar saya yang hapal dengan pasti posisi makam :)

Setelah dari makam, kami langsung meluncur ke rumah kakak perempuan tertua, yaitu Uni Titi. Hihi, di sini anak-anak mulai kagok, karena harus memanggil tantenya dengan panggilan "Makdang". Mereka mulai bisik-bisik, apaan sih makdang itu? Ya semacam "budhe" gitu lah. Mau saya sebenarnya, semua kita panggil Om dan Tante aja. Tapi sepertinya nggak bisa ya, mereka sudah ada istilah sendiri. Lagipula, bagus juga biar anak-anak saya tahu istilah dalam kekerabatan ayahnya.

Di rumah Uni, kami buka puasa bersama. Siapa yang paling hepi? Tentu saja suami saya tertjintah. Bayangkan, sudah berapa tahun dia tak bertemu tempoyak dan rendang yang kering begitu?
Udah deh, dia makan sambil merem melek, disapa pun tak peduli. Yang paling penting saat itu adalah piring di tangannya!

Setelah makan, kami action dong ^^


Senangnya, bisa kenal dengan keluarga semua. Selama ini, kami hanya tahu bahwa kakak yang ini sudah nikah, anaknya dua. Kakak yang itu juga udah nikah, anaknya berapa. Sekarang, kami melihat dan kenalan langsung dengan mereka! Anak-anak, tentu saja happy mengenal para sepupunya itu.

Apalagi saat kami ke rumah PakDang (kakak tertua suami), di sana ada "tambahan" sepupu lagi karena Pakdang punya empat anak ^^

Makan, makan, dan makan! Itulah yang kami lakukan selama di Bengkulu ^^

Oh iya, pas hari ke-dua, kami juga mengunjungi Ibu (ibu tiri suami) di rumah Ayah. Sayang, Ibu lagi pergi huhuhu. Jadi kami bengong di teras, sambil nungguin. Sambil nunggu, foto dulu deh generasi ke-2 dan ke-3 bapak Indera Syahfrie hihihi *narsis*


Lah, kenapa fotonya jadi njempalik gini? Ah sudahlah, biarin. Padahal sudah aku rotate loh. Tuh keliatan kan papan namanya Pak Indera? Khas rumah masa lalu ya ^^

Oya, dari Ibu ini, suami saya punya 6 adik. Huaa, banyak ya. We are so big big family! Dan suami pangling pada mereka, karena saat terakhir pulang ke Bengkulu, mereka masih imut bin kiyut. But look at them now, udah jadi cowok ganteng dan cantik! Apalagi yang namanya Gito, sayang sekali kami tak sempat berfoto. Saya sampe ngomong ke suami, kok adikmu bisa seganteng ini? Hahaha *dengan kata lain, kok kamu gak ganteng?*


Tuh kan, cakep-cakep? Dari kiri ke kanan : Suamiku, Rina, Nini, dan Ari. 

Saat malam Lebaran, kami nginep di rumah Ayah. Ibu kayaknya senang banget deh, sama anaknya yang hilang ini, hihihi. Ibu masak macam-macam ^^

Lihat, Ibu masih cantik ya? And I think she's stylish too ...

  Oya, saat mudik ini kami juga menyempatkan diri untuk ke Palembang. Di sanalah, ibu kandung suami saya dimakamkan. Rasanya gimana gitu ya, ngelihat suami elus-elus makam ibunya. Jadi ngebayangin anak-anak saya sendiri. Huhuhu ... ibu suami meninggal saat suami masih berumur empat tahun, hiks. 





Oya, saat di Palembang, saya dibombardir oleh mamah saya untuk mampir ke rumah sepupu beliau. Terpaksa *halah* kami touring mencari alamat. Untuuuung, Om saya itu orang yang cukup terkenal di Palembang (beliau pemilik PO Putra Remaja). Jadi, begitu kami tersesat, tinggal turun ke travel agent terdekat, dan tanya "Kantornya Pak Purnomo di mana ya?" dan orang-orang bisa menunjukkan di mana kantor beliau.  Kami ke kantornya, bertemu dengan anaknya, dan kami diantar ke rumahnya. Jadi, nggak perlu touring lagi deh di tengah macetnya kota Palembang.



Selama di Bengkulu, selain makan-makan, kami juga jalan-jalan. Tapi nanti saya buat terpisah aja ya? Lemot nih uplod foto :((

Pokoknya, perjalanan kami ke Bengkulu ini penuh kesan. Saya baru sekali ini merasakan bagaimana kehangatan sebuah keluarga. Di keluarga saya, bahkan nggak sehangat ini. Keponakan-keponakan saya, cuek aja ama Edgard dan Gerald (ya iyalah, mereka dah kuliah dan SMA). Tapiiii, keponakan2 di Bengkulu ini meski udah gede2, masih aja tuh main kejar-kejaran ama Gerald hihihi. Itu yang bikin anak-anak happy, dan nangis saat meninggalkan Bengkulu. 

Saya berjanji pada anak-anak, untuk cari duit dulu yang banyaaaaak. Nanti, dua atau tiga tahun lagi kita mudik lagi. Soalnya nggak murah :(((

Doakan mamah bisa dapat duit banyak ya kids! Nanti kita maen lagi ke Bengkulu, bertemu sodara-sodara kita yang baek-baek ^^










Rabu, 12 Juni 2013

Edgard dan Gerald mengarang

Sebelumnya, aku tak pernah berpikir sama sekali untuk mengajari anak-anakku mengarang.
Kupikir, belum saatnya lah. Dan aku juga tidak mau ada kesan, seolah-olah aku memaksa anak-anakku.

Namun, mindset-ku berubah saat kupikir-pikir lagi, semua anak harus dibekali skill. Dan sebagai ibu, aku punya kemampuan mengarang. So, kenapa tidak kubudayakan pada anak-anakku?

Untuk Edgard (9 tahun) jauh lebih mudah karena dia sudah lancar menulis. Jadi, dia bisa langsung menuliskan karangannya ke kertas.
Sayang, Edgard belum mau mengetik dengan komputer. Tak apa-apa, aku tak mau memaksa. Jadilah buku tulis bekas, dan kertas-kertas bekas sebagai "kanvas" nya.

Bagiku, itu semua harta karun. Isi tulisannya bermacam-macam. Ada yang bagus, ada yang seadanya, ada yang imajinasinya liar, ada yang yaaah begitu-begitu saja. Tapi, semuanya aku ketik dan aku kumpulkan.

Yang berbentuk puisi, aku kirimkan ke Kompas. Juga yang cerita super pendek.
Sedangkan pengalaman yang lucu-lucu, aku kirimkan ke Bobo. Siapa tahu bisa dimuat di rubrik Tak Disangka.

So far, Edgard sudah mengarang banyak cerita, dan insya Allah dia akan segera punya buku pertamanya. Sekarang sedang dalam proses ilustrasi.

Untuk puisinya, udah pernah dimuat satu kali di Kompas Minggu.













               
Bagaimana dengan Gerald?
Aku memintanya untuk mengarang, dengan cara bercerita.
Dia menghadap cermin, dan bercerita tentang apa saja.
Kalau menurutku menarik, aku akan menuliskan untuknya.

Salah satu ceritanya yang menurutku amat lucu, aku tuliskan dan akhrinya dimuat dalam bentuk puisi di Kompas juga.



Phew, saya tak menyangka curhat Gerald di depan cermin bisa dimuat di Kompas.

Tentu, sebagai ibu saya bangga. Dan sekarang, saya mulai melatih Gerald untuk menuliskan sendiri cerita-ceritanya. Dia kan udah hampir tujuh tahun usianya. Seharusnya udah mulai lancar menulis, hihihi.

Saya tak mau gegabah, saya tak mau instan.
Beragam kursus menulis untuk anak-anak ditawarkan pada saya, dengan iming-iming bakal punya buku.

Tujuan saya bukan itu. Saya tidak memburu "punya buku" sebagai tujuan saya mengajari anak-anak untuk menulis.
Tujuan saya hanya satu : memberi skill sebanyak mungkin pada mereka.

Jika toh akhirnya mereka tidak menjadi seorang penulis profesional, at least mereka punya keterampilan menulis.
Saya percaya, jika mereka terampil menulis, mereka akan terampil pula dalam berbicara dan bersosialisasi.

Aamiin. Ibu mana yang tak mengharapkan kebaikan untuk anaknya?

Go Edgard and Gerald, maju terus!













Today, I'm turning 39!

Today, 12 June 2013, I am turning 2013.

How is my feeling?
Happy, of course.
God is so good to me. He gives a lot of happiness into my life.

What can I say?
A lovely husband, and two smart boys (which are sometimes irritating me, but fine. It means they are healthy boys).

What I would expect from God?
Hmm, no more. God is too good to me.

I only wish that I could bring my boys a bright future, and I wish I could live together with my husband till death do us part.

So, happy birthday to myself!


My lovely husband, Isman ^^









My lovely boys, Edgard and Gerald ^^