Selasa, 10 Juni 2014

Prolog "Perempuan Kedua - Ketika Cinta Harus Terbagi"


Banyak yang menanyakan apa sih isi novel ini? Apakah novel ini akan membela para perempuan kedua? Apakah novel ini menceritakan tentang poligami?
Hehe, jawabnya "tidak". 

Ini bukan tentang poligami. Ini juga bukan tentang pembenaran perselingkuhan. 
Jatuh cinta, bisa terjadi pada siapa saja. Tak peduli kamu masih lajang atau sudah berpasangan. 

Yang membedakan adalah, kemampuanmu untuk berpikir menggunakan akal sehat. Di novel ini, saya memakai dua sudut pandang.
Sudut pandang si perempuan kedua, dan sudut pandang si selingkuhannya. 


Dengan dua sudut pandang ini, saya berharap agar pembaca bisa menyelami masing-masing hati mereka. 

Aih, sudahlah. Beli bukunya nanti ya ^^

Ini prolognya:
 
PROLOG

Daisy
Namaku Daisy. Aku adalah perempuan kedua, orang-orang bilang perusak rumah tangga orang.
Seseorang bahkan memanggilku perempuan jalang.
Aku benci dengan kenyataan ini…
Namun, saat kupandang wajah Pandega, hatiku luruh. Dia mencintaiku, sekaligus mencintai istrinya. Egoiskah dia? Aku tak tahu. Yang aku tahu, aku juga amat mencintainya.
Apa salah jika dua hati yang saling mencinta memutuskan untuk menikah? Rara, istri Pandega, tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Pandega bukan orang suci! Dia bukan pula dewa atau malaikat. Pandega hanya pria biasa yang membutuhkan kasih sayang untuk dirinya dan kedua anaknya.
Aku siap menyongsong kehidupan baru bersama Pandega meski kutahu di luar sana banyak yang menghujatku. Perempuan bodoh, perebut suami orang, bahkan perempuan yang tak kenal belas kasihan!
Kuterima semua tuduhan itu, karena aku tak bisa mundur. Aku tak mau mundur.
Hanya takdir Ilahi-lah yang bisa membatalkan semua ini.
***
Pandega
Aku Pandega. Kau boleh menyebutku pria pecundang, pengkhianat, atau apa pun. Namun, semua itu takkan membuatku memungkiri perasaanku padanya.
Siang itu, saat rinai gerimis menari riang, dadaku berdegup kencang saat melihat parasnya.
 “Daisy,” telapak tangannya begitu lembut membelai jemariku. Aku salah tingkah.
Oh Tuhan, aku belum pernah merasakan degup dadaku sekencang ini. Bahkan ketika dulu aku berkenalan dengan Rara, istriku.
Rara…
Kualihkan pandanganku dari wajah ayu Daisy ke wajah istriku terkasih.
Istriku, kapan kau akan bangun dari tidur panjangmu?
Aku rindu mencium wangi rambutmu dan merasakan detak jantungmu.
Sampai kapan aku harus menanti?
Waktu berlalu, dan aku tak bisa berbohong pada diriku. Aku telah jatuh cinta pada Daisy. Aku ingin menikah dan hidup bersamanya.
Aku tahu, di luar sana orang tak hentinya menghujatku. Suami sadis, yang tega berselingkuh saat istrinya koma berkepanjangan.
Tapi, bukankah cinta itu seperti rinai gerimis siang ini? Yang tak pernah memperingatkanmu akan kedatangannya. Cinta juga tak pernah memilih pada siapa dia akan bersandar.




18 komentar:

  1. Luar biasa. Bikin penasaran nih ;)

    BalasHapus
  2. Masih berdoa semoga jadi salah satu blogger yang terima bukti terbit. Aamiin *pedeabis*

    Penasaran abiiiiisss. Bikin GA lagi donk, Ceeeee *kecanduan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, rencananya mau kirim ke blogger khusus buku yang tinggal di Makassar. Sama ada satu lagi yang memang khusus reviewer buku. Maaaaafff

      Hapus
  3. Huhuhu...panas dingin bacanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, jangan nangis duluan ya

      Hapus
  4. Bikin mewek kayaknya..siap-siap tisu nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks, yang nulis juga sempet nangis >.<

      Hapus
  5. Baru baca prolognya aja sku udah deg degsn mbak...kayanya harus nyanding tissue nih kl baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, makasih. Iya pasti bakal mbrambangi

      Hapus
  6. Mba wulan bisa di beli di manakah buku ini....😭😭😭

    BalasHapus
  7. Kalimat terakhir sungguh menyentuh. Mau beli novelnya ah mbak.

    BalasHapus
  8. Bikin penasaran saja ini...

    BalasHapus
  9. baca prolognya udah penasara.. mau mbaa :D

    BalasHapus

Happy blogwalking, my dear friends ^^