Rabu, 10 Februari 2016

Benci sama penganut agama lain? Kamu kalah dong dengan santri generasi 90'an ini ^^

Saat ikut mata kuliah etika, kami diwajibkan ikut semacam study tour begitu deh. Kali ini, tujuan kami adalah ke Tasikmalaya. Horee, kami akan mampir ke Kampung Naga juga dan mempelajari kehidupan di sana.

Nginepnya di mana?
Waks ... nginepnya di pondok pesantren!! Konon, pondoknya berisi ratusan santri. Pondok ini (pada jamannya) kayaknya yang terbesar deh. Saya lupa namanya. Lokasinya di Rajapolah, Tasikmalaya.

Sontak, saya gemetar.
Bayangkan, saya (waktu itu) beragama Katolik. Plus, saya bermata sipit dan berkulit putih mengilat bak porselen (oke, abaikan saja yang kulit mengilat hahaha).
Dan, saya punya pengalaman buruk yang berkaitan dengan SARA, dan (sialnya) tokoh antagonisnya ada yang berasal dari Tasikmalaya. Lengkap sudah kegemetaran saya.

Beberapa teman yang ikut study tour ini juga mengingatkan saya akan beberapa hal, dan terus terang saya semakin gemetar.
"Kalungmu dilepas!" -- saya waktu itu pakai kalung berbandul salib
"Harus pakai jilbab!" -- hoaaa, dari mana saya punya jilbab????
"Nggak usah ngomong kalau kamu Cina!" -- meski nggak ngomong, orang juga tau keles dari tampang saya

Wes lah, pokoke gemetar stadium akhir. Saya seperti mau dicemplungin ke kandang buaya.

Sampai di sana, ternyata pondokannya ada banyak sekali. Tiap santri mondok di pondok pilihan mereka, sesuai dengan budget yang mereka punya. Namun, mereka belajar di pesantren yang sama.

Saya ditempatkan di satu rumah yang cukup besar, santrinya banyak. Kira-kira lebih lah kalau 50 orang. Untunglah, saya tak sendiri. Saya nginep di sana berdua, dan teman tandem saya adalah Naomi, si Batak Kristen ( dan sekarang Naomi pun memeluk Islam, dan berjilbab. Alhamdulillah ya).

Saya dan Omi gandengan sambil mengkeret ketika harus memperkenalkan diri ke adik-adik di pondokan itu.
Akhirnya, saya memutuskan untuk langsung to the point.

"Nama saya Dian, dan maaf saya bukan muslim. Agama saya Katolik. Nggak apa-apa kan kalau saya tidur di sini bareng kalian semua?"

Tau nggak apa jawaban mereka?
"Nggak apa-apa atuh, Mbak. Memangnya kenapa kalau non muslim? Semua manusia mah bersaudara!"

Eaaa, hati saya langsung nyeeeees bak disiram air dingin. Saya langsung sumringah, Naomi pun sumringah. Kami semua langsung akrab, bercerita akrab seperti layaknya sahabat lama.

Malam tiba. Kami tidur beralaskan tikar saja. Berjejer-jejer seperti ikan pindang :p
Tapi yang namanya kebo, ya tetap kebo (saya).
Saat saya bangun, waduh antrean di kamar mandi sudah mengular. Duh, gimana dong? Mana panggilan biologis sudah meraung-raung.
Lagi-lagi, saya mendapat kemudahan.
"Minggir .... minggir, kakak UGM mau mandi!" perintah seseorang pada santri-santri yang antre.
 Saya pun tersipu-sipu menerobos antrean. Maaf ya adik-adik, Kakak UGM mau kuliah. Takut dimarahi pak dosen :D

Sarapan pagi pun disiapkan dengan baik. Menunya nasi kuning yang amat lezat meski hanya berlauk dadar telor iris tipis-tipis dan taburan bawang merah goreng.

Saya pun berangkat kuliah lapangan dengan hati gembira.

Apesnya, saat jalan-jalan di Kampung Naga, saya keseleo. Pas pulang ke pondokan, kaki saya sudah bengkak segede kaki gajah.
Adik-adik pondokan langsung berinisiatif memanggil mamang becak (sepertinya itu mamang hanya beroperasi di area situ deh) untuk membawa saya ke tukang urut.
Waktu itu, yang mengantar saya ada dua orang + Naomi.


Tau nggak, siapa yang bayar ongkos becak dan ongkos tukang urut? Mereka!
Saya waktu itu nggak bawa duit, dan mereka dengan ikhlas bayarin saya. Terharu nggak sih?
Jangan tanya gimana tingkah laku saya waktu diurut oleh mamang yang tuna netra itu. Saya melolong lolong, berteriak, menjerit, wes pokoke nggilani deh.  Dan, tahukah kalian apa yang para santri itu lakukan? Mereka sibuk ngobrol sama si Mamang tanpa mempedulikan jeritan saya.
(Setelah kejadian itu, baru mereka bilang kalau mereka sengaja gak peduli.  Menurut mereka, kalau mereka peduli, nanti saya tambah lebay. Jadi lebih baik dicuekin saja. Tega ya, hiks ...)

Pulang dari tukang urut, para santri dengan tabah dan ikhlas menumbuk beras dan kencur untuk kemudian ditempelkan ke kaki bengkak saya.
"Besok insya Allah kempes, Mbak," kata mereka.
Voila ... dan ternyata benar. Memang kempes :))

Tak terasa, kami harus kembali ke Jogja. Para santri itu memelukku penuh haru. Mereka bilang amat senang bisa kenal dengan saya. Hiks, sayang ya saya lupa siapa saja nama mereka. Coba kalau inget kan bisa search di Facebook.

Dari pengalaman saya ke pondok pesantren ini, saya mendapat satu hikmah. Ternyata, orang yang belajar agama, dan mau mengamalkan agamanya dengan sebenar-benarnya, hidupnya nikmat.
Mereka hidup sederhana, selalu dalam senyuman, tak curiga pada orang lain, mau bersahabat dengan siapa saja.

Bandingkan dengan kondisi sekarang. Lihat saja timeline yang bersliweran. Banyak sekali orang-orang yang mengaku beragama, tapi kalimat-kalimatnya setajam silet. Apalagi terhadap pemeluk agama lain.
Ngeriiii ....

Jika kamu termasuk golongan yang suka mencaci orang beragama lain, dan intoleran, mungkin kamu harus mengendarai mesin waktu dan pergi ke Rajapolah di tahun 95'an. Belajarlah dari adik-adik ini, bagaimana berhubungan sosial dan memuliakan tamu.


Keterangan gambar : Yang kerudung kuning Naomi, yang pake poni Dora the explorer, saya dong ^^
Lucu ya, kami dua orang non muslim saat itu. Dan sekarang, kami berdua muslim!!














35 komentar:

  1. Masya Allah baca ini kok ada ketawa, nangis, ketawa, nangis lagi, haruuu banget. Aku juga kuliah dulu punya teman akrab non muslim mbk. Sampai tamat kuliah masih berteman.

    BalasHapus
  2. Hiduplah dengan sederhana, ya ^^ Jangan apa-apa dipikiri, apa-apa dicurigai :)

    BalasHapus
  3. Saya kok malah nggak melihat Dora, tapi melihat mba Tutut, malah...:p
    Xixixi..
    Nice story mba, ditangan mba Dian crt apapun jd lutuuu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astaga, mbak Tutut wkwkwkwk. Rambutku masih hitam tak beruban kuwi

      Hapus
  4. Saya kok malah nggak melihat Dora, tapi melihat mba Tutut, malah...:p
    Xixixi..
    Nice story mba, ditangan mba Dian crt apapun jd lutuuu :D

    BalasHapus
  5. Nggilani pas diurut. Mbak Dian banget :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kupikir2 lagi, mungkin temanku benar. Aku lebay. Maklum, masih muda belia :)

      Hapus
  6. Masya Allah.. Pengalaman yang luar biasa. Mestinya makin banyak yg baca iniii.. Saya sendiri punya banyak teman non muslim. Bahkan suami saya bekerja di studio milik orang tionghoa juga. Sedih waktu ada yg bilang, "Koq kerja sm orang china sih? Duitnya haram." tapi saya cm berkeyakinan bahwa rezeki itu dari Allah, dan perantaranya bisa siapa saja. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih haram? Sependek pengetahuanku, kita boleh kok bekerjasama dengan agama apapun.

      Hapus
    2. Ada yg bilang begitu Mba.. Bahkan dia menyarankan lbh baik bekerja sm yg muslim saja. :(

      Hapus
  7. Wah, tibake mbak Dian pernah mondok. Hihihiii... Nice story, mbak. I like it. Tak share yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan bukan pondok mewah kayak pondok jaman sekarang. Turune nang jubin nggelar kloso

      Hapus
  8. Wah, tibake mbak Dian pernah mondok. Hihihiii... Nice story, mbak. I like it. Tak share yaa...

    BalasHapus
  9. Pengalaman mondok ala mahasiswi walau sebentar itu seru ya mbak,dulu saya juga pernah ngalamin di daerah garut.jalan hidup kedepan ngga ada yg pernah tau ya mbak,ada bbrp teman sewaktu SMA yg dah lama ngga ketemu ternyata sekarang jadi mualaf yg taat,kebetulan saya sekolah di sma katolik yg di dominasi chinese.dan saya paling senang dengar perjalanan hidup mereka hingga ke titik sekarang,seperti mbak dian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang dulunya berjilbab lebar dan galak banget, sekarang ada juga yang nggak berjilbab lagi. Hidup itu misteri, penuh pilihan :)

      Hapus
  10. Mbak dian dereng niat berjilbab mbaa.... heheh kisah nyata ingkang nginspirasi sanget mbaa...

    BalasHapus
  11. Makasih sudah sharing cerita ini, Mbak :)

    BalasHapus
  12. dan biasanya orang-orang yang seperti Cik Dian ini, (eh Mbak dink ya.. bahasanya munjuli bahasaku je) yang agamanya lebih khusyuk, makasih ceritanya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuh, cik dian ini beragamanya masih belepotan. Masih jauuuh perjalanannya :) makasih udah mampir

      Hapus
  13. Huaaa seru banget. Gokil sumpah. :v Ahahah alhamdulillah ya Mbak, hidayah bisa dateng dari mana aja. Btw pasti kangen ya sama santri-santri itu? Andai kan bisa kopdar. :v :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, andai bisa kopdar. Dan apakah mereka ingat padaku? Mustinya ingat ya, wong aku kalo mennjerit mengerikan :p

      Hapus
  14. belajar nulis dimana ini..enak sekali bacanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aslinya doyan ngomong, xixi. Daripada cerewet mending ditulis deh.

      Hapus
  15. Betul sekali, sekarang banyak orang seakan paling pinter dewe, menghujat rono rene ra karu2an, padahal diri sendiri masih belepotan. Kearifan hidup seakan terenggut dengan kemudahan terlontarnya sebaris kata di dunia maya, yang kemudian diamini dan dibesar2kan secara estafet :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jempol dan jemari banyak bikin dosa ya Mak. Beraninya di dunia maya wkwkwk kalau ketemu face to face ya palingo salim

      Hapus
  16. aku numpang tertawa geli ya Mbak..hahaha...*tapi tawaku jelas penuh makna dan penghayatan serta adukan perasan* ...halah iki opooh

    BalasHapus
    Balasan
    1. susah sekali aku membayangkan tawa yang penuh makna penghayatan dan adukan perasaan

      Hapus

Happy blogwalking, my dear friends ^^