Senin, 31 Oktober 2016

Happy or Not Happy, it depends on YOU!

Pagi ini, pukul 06.30, handphone saya menjerit-jerit.
Buset dah, padahal sedang siap-siap naik peraduan lagi. Siapa nih yang telpon?
Ternyata, Edgard,

"MAMA! LKS PKN Edgard ketinggalan! Kalau nggak bawa, kena denda 20 ribu! Mama tolong anterin ya? Warnanya putih, ada gambar bendera merah putihnya!"

Wedew ...

Setahun atau dua tahun yang lalu, mungkin saya akan marah besar mendapat telpon seperti ini. Dan, pasti saya akan bilang:
"NO WAY. Salahmu sendiri. Bayar aja dong 20 ribu pakai uangmu, kan masih ada angpo ulangtahun kemaren?Makanya, jadi anak itu yang bertanggungjawab. Jangan grusa-grusu. Siapkan semuanya sejak malam. Kalau gini kan nyusahin ortu bla bla bla bla,"

Tapi, saya sudah menjadi Mama yang lebih sabar *cieeh, kecuali pas PMS sih*
Saya menjawab dengan biasa-biasa saja.
"Iya Nak, Mama cari dulu. Sebentar lagi Mama anterin,"

Saya pun mencari LKS PKN di tengah rak bukunya yang naudzubillah acak adul. Ketemu.
Dengan tenang, saya panasi motor, dan meluncur ke SMP.

Sampai di sana, Edgard sudah menyambut saya. Wajahnya nampak pucat, kayak cemas dan takut. Mungkin takut kalo saya marah.
Dia buru-buru cium tangan, mengambil LKS, dan pamit balik ke kelas.
Saya pun, hanya mengelus kepalanya, dan bilang "Yang baik di sekolah ya, Nak,"

Selesai.
Tanpa pertikaian.
Tanpa emosi jiwa.
Saya mampir beli susu kedelai dua botol, buat Gerald dan saya.
Happy, mimik susu kedele pagi-pagi :D
Pulangnya mampir pasar, dapat cumi-cumi dan udang.

Coba bayangkan, jika tadi saya menolak permintaan Edgard, dan bahkan marah-marah di telepon?
Tentu, Edgard akan membantah, dan memaksa.
Tentu, saya tambah marah.
Tentu, nanti sore pas njemput, pertengkaran akan berlanjut.
Tentu, nanti saya lapor Papa, dan si Papa akan ceramah muter-muter.
Si anak jadi sebel.
Ortu pun sebel.
Satu rumah cemberut semua.
Nggak enak, kan?

Nah, dengan bersikap sabar dan menuruti permintaannya, apakah artinya saya memanjakan anak?
Apakah artinya saya tidak mengajarinya bertanggungjawab?
Saya pikir nggak tuh. Kan udah keliatan dari raut mukanya tadi. Dia udah jelas-jelas ngerasa bersalah. Mengapa harus mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang dia sudah tau?
Nanti sore, baru akan saya beritahu ke dia, bahwa cukup sekali ini saja Mama menolong. Lain kali, jangan ya. Selesai.

Trust me, menjadi seorang ibu itu nggak ada sekolahnya. Tiap hari kudu belajar.
Saya belajar dari ibu-ibu lain, yang punya anak seusia anak saya. Bukan dari teori parenting ini dan itu.
Dari pengalaman banyak orang, saya mengambil mana yang cocok dan bisa saya pahami.

Suatu sore, di tempat les Inggris, ada dialog antara ibu A dan ibu B.

Ibu A : Anakku marah, tadi harusnya latihan basket jam 3 sore. Dia ketiduran, dan nggak aku bangunin. Biarin, udah gede kok masih nggak bisa ngatur diri sendiri. Harusnya kan dia pasang alarm, masa ngandalin Mamahnya untuk ngurusi semuanya?
Ibu B : Lho ya gapapa tho. Kan tugasnya orangtua memang ngingetin anaknya.
Ibu A : Enak aja! Udah gede ya harus bisa ngurus diri sendiri.
Ibu B : Trus, nggak jadi latihan basket?
Ibu A : Ya enggak. Padahal ada seleksi untuk kejuaraan. Dia kecewa sih, manyun aja seharian.
Ibu B : Hmm ... kalau saya sih, pasti saya bangunin. Nak, ayo bangun. Katanya mau latihan basket? Katanya ada seleksi? Yaaah, itu menurut saya sih.

Dari hasil nguping pembicaraan itu, saya pikir, ibu B ada benarnya.
Why bring so much pains to our kids?
If we can make it easy, why we make itu difficult?

Urip ki cuma sepisan. Ojo digawe buthek.
Nek ono dalan sing bening, yo pilih sing bening wae.

Begitulah ... itu kalau saya.
Saya, seorang ibu yang ingin terus memperbaiki diri, agar menjadi ibu keren nan cool yang dicintai anak-anaknya. Bukan ditakuti ^^

Terakhir, tak ada kesan tanpa kehadiran iklan.

Udah pada punya buku ini untuk para remaja hebatnya belum?
Harganya cuma Rp. 39,000
Beli ya, murah dan insya Allah bermanfaat bagi remaja-remaja kita yang sedang mencari jati diri ^^















6 komentar:

  1. Ass.wr.wb мϐä Dian.., smg sehat2, bahagia dan sukses sentiasa menyertai..

    Jadi ingat kata bijak ;

    “Jika terjadi pertengkaran, jangan biarkan hati menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak lagi bisa ditempuh.”

    Lalu..hari ini ãķΰ ingin menyampaikan rindu..hingga hatikupun tersenyum..menatap indahmu♡

    Selamat beraktivitas saudaraku. Semoga Allah selalu melindungi kita dan keluarga kita. Aamiin. ..♥ #salamrindu.. ♥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikum salam Mbak Mita. Makasih udah berkunjung.

      Iya Mbak, pengalaman di masa lalu, kalau marah ke anak, bawaanya pengen ngucap yang jelek2. Padahal, ucapan Ibu itu kan doa ya.

      Makasih udah mengingatkan.

      Hapus
  2. Assalamu'alaikum, Mbak Dian.

    Wow, ceritanya menginspirasi banget. Jadi kerasa kesentil, hehe. Masih sering belum bisa menahan sabar kala si kecilku rewel banget. Masih belum bisa memahami kemauannya.

    Terimakasih sudah mau berbagi.

    Mau dong, bukunya, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, bukunya mudah didapat kok.

      Bisa dibeli online di sini Mbak.
      https://store.tigaserangkai.com/produk/100-quotes-kumpulan-kutipan-seru-buat-remaja-hebat/

      Hapus
    2. Sampai lupa ngejawab salamnya >.<

      Waalaikum salaam, Mbak. Makasih ya udah menyempatkan mampir di sini.

      Hapus
    3. Terimakasih infonya, Mbak Dian. Maaf baru membalas :)

      Hapus

Happy blogwalking, my dear friends ^^