Kamis, 26 Oktober 2017

Hello, I am Madeline -- A True Story (Part 1)

Hi, everyone ...

My name is Madeline.
I am a thirty seven year old mother of two adorable sons.
I love cooking, reading, and watching movies.
I work as a Secretary at an International company.
I live in an apartment, and I do yoga routinely.
I have fifty two pairs of shoes and countless dresses and bags.
People call me Maddie. And they come to me for solutions, because I always helps others.

I look happy.
I look pretty.
At least, that’s what people see. That’s what I wanted people to see.
But deep under the beauty, the smile, the happy cheerful bubble, there is a dirty truth.

I have severe depression, and I am currently taking six different medications (Remeron, Abilify, Sernade, Clofritis, Clozaril, and Merlopam) to manage my insomnia, my depression, my panic attack, my psychotic disorder, and my chronic anxiety.
I cannot sleep without taking pills.
You can find information of my drugs on drugs.com

I have abused my medicines and was admitted to the hospital for attempted suicide and overdosing.
I am a freak, I hurt myself occasionally, and there are scars on my body and my soul that people can’t see.
Or they do see, but they assume those were just accident scars.
Because who would have thought Madeline would be able to sit on the floor in her bathroom, slitting her wrist?
No body.
Because Madeline is beautiful. Madeline is healthy. Madeline is smart.
Madeline is perfect.
She is not perfect. She is scarred. She is sick. She is hurt.

But she’s surviving.
She is now stronger than ever.

And here is her story.

(TO BE CONTINUED) 
------------------------------------------------------

Hai, namaku Madeline. 
Usiaku 37 tahun, dan aku ibu dari dua pria cilik yang tampan dan mengagumkan. 
Aku suka memasak, membaca, dan nonton film. 
Aku bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan internasional. 

Aku tinggal sendiri di sebuah apartemen, dan aku rajin melakukan yoga. 
Aku punya 52 pasang sepatu. Baju dan tas? Tak terhitung!!
Orang-orang memanggilku Maddie. Mereka suka curhat padaku, karena aku selalu menolong mereka. 

Aku selalu nampak bahagia. 
Aku juga nampak cantik.
Paling tidak, itu yang orang-orang lihat dariku. Atau, apa yang aku INGINKAN orang-orang lihat dariku. 
Tapi, di balik semua itu, ada sebuah kenyataan pahit. 

Aku mengalami depresi berat. Dan, saat ini aku mengonsumsi 6 obat berbeda (Remeron, Abilify, Sernade, Clofritis, Clozaril, and Merlopam) untuk mengatasi insomnia, depression, panic attack, kegilaan, dan kegelisahan kronis. 
Aku tidak bisa tidur, tanpa meminum obat. 
Semua informasi tentang obat, bisa dibaca di drugs.com

Aku telah menyalahgunakan obat-obatanku, hingga aku dilarikan ke RS karena overdosis dan mencoba untuk bunuh diri. 
Aku amat ketakutan. 
Aku sering melukai diriku sendiri. Lihatlah, banyak bekas luka di tubuhku (juga di jiwaku) yang tidak bisa orang lihat. 
Atau, mungkin orang bisa melihat, tapi mereka pikir 'ah itu bekas luka kecelakaan'. 

Siapa sih yang menyangka Madeline bisa tersungkur di kamar mandi sambil mengiris pergelangan tangannya sendiri?
Tidak ada yang menyangka. 
Karena Madeline cantik, sehat, pintar, dan SEMPURNA. 

Pada kenyataannya, dia tidaklah demikian. 
Madeline sakit. Dia penuh luka. 
Namun, dia bertahan. Dia jauh lebih kuat daripada sebelumnya. 
Dan ... inilah kisahnya. 

(BERSAMBUNG)
(inilah tanganku, ketika aku memukul tembok sekuat tenaga)

46 komentar:

  1. Wah gagal fokus awalnya menteleng translate..eh ada trjemagnny..
    Mnanti klanjutanny mbk smngattt...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha iyo aku yang nerjemahin, daripada nanti ada yang komplen, kok ga ada bahasa Indonesianya xixixi.

      Hapus
    2. sudah mau komplen je.. tapi nggak jadi, sudah ada terjemahannya 😂

      Hapus
  2. Madeline, I'm waiting for your writing.
    Keep writing, keep spirit, dear Madeline...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, Mbak. I believe she read your comment ^^

      Hapus
  3. Buat mbak Madeline ... Tetap semangat ya. Menulislah agar jiwamu tenang. Terima kasih mbak Dian, sudah bersedia berbagi di blog ini. Ditunggu kelanjutan kisah mbak Madeline di blog kece ini ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak. Terimakasih sudah membaca.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Aku berharap Madeline dapat menemukan kebahagian hidupnya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga dia bisa fokus pada hal yang baik baginya

      Hapus
  6. Aku berharap Madeline dapat menemukan kebahagian hidupnya 😊

    BalasHapus
  7. Seperti Mbak Dian bilang, writing is healing. Semangat, Maddie ... kau pasti bisa melaluinya ...

    Ditunggu lanjutannya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih. Semoga lanjutannya very soon

      Hapus
  8. Mbak Meddie, tetap semangat. Terkadang saya sendiri punya saat-saat dimana merasakan hal yang sama pula.

    Mbak Dian, ditunggu lanjutannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang kuat, dan teruslah fokus pada hal-hal yang baik ya. Makasih sudah membaca dan menguatkan Maddie

      Hapus
  9. I am deeply touched by this story.. I hope Maddie can find rest for her soul and be happy in her life :) will keep her in prayer..

    BalasHapus
  10. Kadang dibalik jiwa-jiwa yang tegar dan periang tersimpan hati yang rapuh dan terluka

    BalasHapus
  11. Ya Allah... tangane sampek ngunu...

    BalasHapus
  12. Udah baca versi english nya,masih mengerti meski dgn kemampuan pas2an,jebulnya ada terjemahan😊.

    Nunggu lanjutannya.

    BalasHapus
  13. Udah baca versi english nya,masih mengerti meski dgn kemampuan pas2an,jebulnya ada terjemahan😊.

    Nunggu lanjutannya.

    BalasHapus
  14. Udah baca versi english nya,masih mengerti meski dgn kemampuan pas2an,jebulnya ada terjemahan😊.

    Nunggu lanjutannya.

    BalasHapus
  15. Kok lebih asyik baca versi Inggris-nya, ya? Berasa membaca novel berbahasa asing. Eh btw thanks for sharing, Mba Dian, juga Madeline, kisahmu akan menjadi pembelajaran bagi pembaca. Tetaplah kuat demi anak-anakmu tercinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, karena Maddie memang lebih biasa menulis dalam bhs Inggris.

      Hapus
  16. salam kenal madeline. Peluk penuh hangat dan cinta. keep writing and share, your not alone. Wanita selalu punya sejuta kisah yang luarbiasa

    BalasHapus
  17. Juhar mariyani27 Oktober 2017 07.12

    Keep struggling madeline, you're not alone.
    Tulisan mbak dian bisa jadi mewakili sara hati sekian banyak wanita rapuh.
    Kunantu kelanjutannya

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  20. Hai Maddie... Kamu pasti bisa melalui ini semua. Berjuang terus ya... Ingatlah selalu, dirimu berharga. Semua akan baik2 aja sayang... Jangan menyerah... Aku mendukung dan akan selalu mendoakanmu... *hugs*

    BalasHapus
  21. Poor Madeline....

    I hope that you can through it :(��

    Waiting for your translation mbak Dian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah ada bab 2 nya, Kak Tanti. Dan semua sudah ada translationnya ^^

      Hapus
  22. I love you Maddie. Deep down I think I know who you are..

    BalasHapus
  23. Madeline sakjane wong ind opo luar mbak? Mudah2an cepet mari sakabehe...

    BalasHapus
  24. Serasa bukan baca terjemahan, lha iyo, mbak Dian gitu lho yang nyusun😄

    BalasHapus
  25. Semoga dgn bercerita bisa mengurangi luka ya, Madeline. Banyak jg yg mengalami semacam ini, hiks...

    BalasHapus
  26. Masyarakatlah jadi bergidik ngeri nih mbak

    BalasHapus

Happy blogwalking, my dear friends ^^