Minggu, 21 Juni 2015

Menulis ulang cerita rakyat? Begini caraku.

Di tahun 2011 (if I’m not mistaken karena pikun), saya diminta oleh Penerbit BIP untuk menulis ulang cerita rakyat Indonesia.

Pertama-tama, tentu kami menyamakan persespi, apa sih “cerita rakyat” itu?

Cerita rakyat adalah, cerita yang biasa dituturkan secara “getok tular” dan turun temurun, sejak jaman dahulu sampai sekarang.
Biasanya, tidak diketahui siapa pengarangnya. Pokoknya cerita itu ada, dan berkembang di masyarakat.
Cerita rakyat seringkali dipakai untuk menceritakan asal mula sesuatu, atau untuk mengajarkan nilai-nilai moral sesuai adat budaya daerah tersebut. 

Jadi, cerita rakyat itu bukan “cerita tentang rakyat, yang kita karang-karang sendiri di masa kini” ya.
Cerita rakyat itu sudah ada. Sudah lama. Sejak jaman neneknya nenek nenek nenek neneknya nenek kita. 

Apa sih contoh cerita rakyat Indonesia?

 
Yang paling mainstream, tentu saja Malin Kundang.
Hohoho, siapa yang tak tahu cerita ini? Cerita tentang anak durhaka yang dikutuak jadi randang … eh batu. Onde Mandeee … kasihan ya. 

Tapi, tentu saja masih amat banyak cerita rakyat di Indonesia tercinta ini. Jadi, saat dihubungi oleh BIP, maka saya pun memutar otak.
Bagaimana saya harus memulai untuk menulis ulang cerita rakyat?

Berikut ini, saya summarize saja apa yang saya lakukan ya. (Disclaimer : Ini adalah pengalaman pribadi, jadi nggak bisa dianggap benar juga nggak bisa dianggap salah. Oke?

1. Mencoba mengingat memori masa kecil. Dulu orangtua saya gemar bercerita. Ada Bawang Putih Bawang Merah, ada Sangkuriang, ada Roro Jonggrang dll. Saya berusaha mengingatnya, semampu saya.

2. Baca, baca, dan baca. Ada banyak sekali buku cerita rakyat yang beredar di toko buku. Saya membeli beberapa, ditambah browsing dari internet dan mulai membaca. Sebelumnya, saya list dulu cerita apa yang mau saya tulis ulang, lalu saya mulai membaca. 

3. Saya menutup buku, dan mulai menulis. Menulis dengan gaya saya sendiri, tanpa melihat lagi buku tersebut. Saya menulis, seolah saya sedang bercerita pada anak saya atau pada sahabat. Ibaratnya, kalau kamu habis nonton film di bioskop dan sahabatmu bertanya jalan ceritanya. Tentu, kamu bisa menceritakan dari awal sampai akhir, dengan bahasamu sendiri kan?

4. Saya membebaskan diri untuk memulai dari adegan yang mana, dari POV tokoh yang mana, dan menambahkan adegan-adegan yang relevan, juga menambahkan detail settingnya. Tujuannya tentu untuk membuat cerita lebih asyik dan seru dibaca, TANPA MENGUBAH ESENSI cerita.
Oya, kamu juga bisa menambahkan dialog-dialog segar, yang berfungsi untuk menghidupkan cerita. Biar pembacamu nggak bobok saat membaca tulisanmu.
5. Menulislah seolah kamu duduk santai dengan secangkir teh di tangan, dan audience yang mendengarkanmu. Jangan buru-buru, pelan tapi pasti mainkan emosi pembacamu. Semoga mereka bisa penasaran “What’s next? What’s next?”

6. Jangan lupakan kualitas pembukaan cerita. Kalau kamu merasa “Pada suatu hari …” terasa membosankan, kamu boleh kok mengubahnya.  
Misalnya, alih-alih memulai dengan ‘Pada suatu hari, hiduplah seorang anak yatim bernama Malin Kundang bersama ibunya yang miskin’ coba gantilah dengan ‘Pagi yang ramai. “Aduh Bu, sakit!” teriak Malin Kundang sambil berkelit dari kejaran ayam jago milik Juragan.’

7. Usai menulis, seperti biasa endapkan dulu. Lalu, pelan-pelan bacalah lagi, bukan sebagai penulis tapi sebagai pembaca.
Kira-kira, kalau pembaca baca naskah ini, suka nggak? Bosen nggak? Atau ‘gimme more gimme more’?

8. Setelah itu, revisi naskahmu.
Saya belajar, bahwa writing is revising. Revisi revisi dan revisi. Jangan bosan mendandani naskahmu secantik mungkin, dan jangan cepat puas beranggapan bahwa naskahmu sudah paling cantik sedunia.
Selesai deh …

Ini penampakan buku saya yang terbit di 2011. Buku ini sudah dicetak ulang dua kali, dan semoga segera cetak ulang ketiga. Tiap cetakan 3000 eksemplar. Lumayan, kan? (Pasti pada ngambil kalkulator dan ngitung royalti saya. Iya kan? Ngaku deh hihihi)


Dan karena penjualan buku cerita rakyat ini bagus, maka BIP meminta saya untuk membuatnya jadi komik.
Waktu itu, saya belum sanggup dan mengalihkan tugas pada sahabat saya, Tethy Ezokanzo.
Ini jadinya. 



Lagi-lagi, penjualan ketiga komik ini amat bagus. Di semester pertama, rata-rata satu komik terjual 1500-1700 eksemplar.
Jadiii, BIP pun meminta saya untuk membuat lagi satu versi yang lain, yaitu untuk anak-anak yang lebih kecil, dengan teks yang sedikit dan ilustrasi yang lebih banyak. Bukunya pun dibuat lebih tebal dengan isi 100 cerita.



Dan, inilah hasilnya. "100 CERITA RAKYAT NUSANTARA", sudah masuk cetakan ke-3. Alhamdulillah.

Semoga postingan ini membantu bagi teman-teman yang ingin menulis ulang cerita rakyat. Kuncinya ada pada keluwesan bahasa, juga sedikit penyesuaian pada norma yang berlaku kini, baik itu norma agama maupun sosial.
Misalnya, kalau ada adegan saru, yo ora usah ditulis. Nginceng wong adus, ojo ditulis. Ngko ndak timbilen kabeh.
OK, siap kan menulis ulang cerita rakyat?

Happy reading, and happy writing then ^^



33 komentar:

  1. Thanks for sharing kak :) Sangat membantu aku hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, semoga bermanfaat ya.

      Hapus
  2. makasih sharingnya cici.. (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Uni. Semoga yang sekelumit ini bisa membantu

      Hapus
  3. Makasih banyak udah berbagi pengalamannya Mbak, bisa jadi rujukan

    BalasHapus
  4. suka deh dengan tipsnya, makaish ya mbk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayo yang udah kursus online segala, bikin yang baguuuus

      Hapus
  5. Mantap, tapi ya tetap saja saya nggak bisa nulis sebagus dirimu, Mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, tau dari mana. Jangan under estimate diri sendiri lho. Sebaliknya, aku juga ga bisa merasa udah bagus. Di luar sana, banyaak penulis yang aku tidak kenal dan jauh lebih bagus meski belum punya buku cerita rakyat. Ayo dicoba ya

      Hapus
  6. Thanks ilmunya cici dian..., semoga suatu saat bs produktif macam cici dian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2. Aamiin, harus lebih produktif yaa

      Hapus
  7. Terima kasih, Kak Dian Kristiani ...

    BalasHapus
  8. Ambil kalkulator juga :)) Trimakasi tips kerennya mbak Diaan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ati2, kalkulatornya gak bisa nampung angkanya hahaha *gaya*

      Hapus
  9. trimakasih sharingnya brmanfaat mbk Dian :-)

    BalasHapus
  10. Top banget tips nulis cerita rakyatnya Kak Dian (y) Semoga nanti penghuni Paberland yang jadi jawara ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, banyak mutiara berkilauan di paberland yaa. Tapi gak hanya untuk lomba, tips ini bisa dipraktikkan juga untuk menulis ulang kisah2 yang sudah public domain.

      Hapus
  11. Kereeenn.. makasih Mbak Dian. Bermanfaat sekali tips nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih. Alhamdulillah jika bermanfaat

      Hapus
  12. Sangat bermanfaat, Mbak Dian
    Terima kasih dah berbagi tips menulisnya
    Ah...jadi makin jatuh cinta baca buku-buku Mbak

    BalasHapus
  13. woww royaltineee...kipas2 pakai duit hihihi, aku tuh sering ragu nulisnya mba, takut bumbuin macam2 jadi ngga asli, ternyata ngga pa pa ya asal relevan....makasih sharingnya yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awas kalkulator e jebol Dew. Iya gapapa dibumbuin, asal esensi ceritanya tetap sama.

      Hapus
  14. Tipsnya mengena banget kak Dian. Bolehkah aku punya satu pertanyaan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh, asal jangan nanya jumlah royaltinya hihi

      Hapus
  15. Kok saran terakhir yang paling nyangkut di otakku yo mbak, hihihiii..
    Makasih sharingnya mbak Di :)

    BalasHapus
  16. tips nya bikin kenyang mbak...., heheheh..., makanan kale....????
    walaupun aq sendiri masih maju mundur kalo mau nulis mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan maju mundur, maju terusss grak!

      Hapus
  17. Makasih sharing tips-nya..wow keren mbak dian :)

    BalasHapus

Happy blogwalking, my dear friends ^^