Kamis, 04 April 2013

Selingkuh itu (Tidak) Indah

Phew, hari ini aku mau membahas soal selingkuh ah. Purely, ini kegelisahan hatiku yang tidak bisa menerima hal-hal semacam ini, dengan alasan apa pun.

Jadi begini, aku mengenal sebuah keluarga yang biasa-biasa saja, suami istri kerja, anak tiga, dan everything seems normal.

Namun, segalanya berubah ketika sesuatu yang bernama FACEBOOK menghinggapi keluarga ini.
Kejadiannya bermula dari tiga tahun yang lalu.
Si istri yang gaptek, minta pada suaminya untuk diajari fesbukan :)
Dan suaminya pun dengan ikhlas mengajarinya. Facebookan ndak ada salahnya kan?

Hari berganti hari, si istri semakin demen fesbukan. Bahkan, saat aku bertamu ke rumahnya pun, matanya tak lepas dari layar HP.
Ini namanya "mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat"

Akhirnya bisa ditebak, si istri inbox2an dan YM an ama pria beristri, dan ngomongnya nyerempet-nyerempet pake kata "sayang", "cinta" dll.
Si suami tidak tahu, sampai suatu hari si suami melihat history di HP dan laptopnya. Marah besarlah si suami.
Tapi alasan istrinya apa? "Cuma berteman kok. Membuat hidupku lebih berwarna, bahagia, ndak bosan,"

Ya, akhirnya dengan segala cara, si istri tetap berinbox ria. Berulang kali ketahuan, dari cara halus sampai cara kasar si suami bertindak dan merespon, tapi semuanya nggak ngefek sama si istri.
Bahkan, si istri sudah mulai ketemuan di mana-mana, dan bobok-bobok bareng :((

Dari mana aku tahu? Ya dari pengakuan dia sendiri plus dari teman-temannya (yang dia tidak tahu bahwa aku juga kenal teman-temannya)

Singkat cerita, si istri tak mau berhenti. Dia bilang, ini bukan perselingkuhan biasa. Ini CINTA. Si pria katanya MENCINTAInya, tidak seperti suaminya.
Hell no! Saya kenal keluarga ini sudah bertahun2.
Suaminya memang orang rumahan (yang mungkin membosankan), sholat wajib dan sunah rajin banget, puasa juga. Ya bapak2 baik gitu deh, cuma mungkin memang tidak "FUN".

But hey, life is compromise, right?
Anak tiga biji, mau dikemanain?

Tapi, sampai berbusa mulutku berbicara (karena aku menyayanginya, tak mau dia mendapatkan kesusahan di kemudian hari) aku tak digubrisnya.
Malah, di status FBnya, dia menuliskan "Anjing menggonggong kafilah berlalu. Asu ngono njaluke diberangus ae,"

OK,  I stop talking to her. Aku nggak mau dianggap anjing yang menghalangi langkahnya. Aku undur diri dari permasalahannya. Toh, dia yang akan menjalani hidupnya.

Kabar terakhir yang aku dengar, si suami sudah menjatuhkan talak 1, lalu lanjut ke talak 2. Saat ini masih dalam masa talak 2. Dan si istri masih berselingkuh ria dalam masa talak ini.

Saya cuma kawatir, kalo mereka bercerai, bagaimana dengan anak2nya?
Ini gila, wong rumah tangga mereka tidak ada masalah berat, ndak ada masalah berarti. Kok tau2 bisa begini?
Dan, aku sangat takut, setelah bercerai, akan jadi apa si istri ini?
Hidup ngekos di kota lain, menjadi istri kedua si pria?
Asal tahu saja, pria selingkuhannya ini adalah pria pengangguran, yang hidupnya luntang lantung netek sama istri.
Istrinya dokter, anaknya kuliah di kedokteran gigi UGM, dan satu lagi SMA.

Apakah si pria ini akan menceraikan istrinya? Well, rasanya ndak mungkin (meski konon dia berjanji akan segera menceraikan istrinya dan mengawini selingkuhannya).

Aku sungguh berharap perceraian itu tidak terjadi. Bagaimanapun, kasihan anak2nya. Ndak salah apa-apa lho mereka itu. Mbok ya sudah, hidup baik-baik, wong usia sudah di atas 40, kenapa nggak hidup bener aja dan memikirkan cara membesarkan anak-anak dengan baik?

Aku cerewet padanya karena aku menyayanginya. Aku kenal betul keluarganya.
Tapi jika kecerewetanku malah membuatnya bete, ya sudahlah. Undur diri, adalah cara paling baik,

Dan, untuk diriku sendiri, aku introspeksi. Jangan sampai rumah tanggaku demikian, apalagi hanya karena masalah pasangan kita ndak FUN.
Perkawinan adalah kompromi.
Bullshit benar kalau kamu ngomong perkawinanmu yang udah 17 tahun itu tidak dilandasi CINTA, dan hidup serasa diperkosa melulu.

Hey, kamu menikah tanpa dipelet, dan tanpa dijodohkan. Kamu pacaran sudah bertahun-tahun. Naif banget dong alasan itu.

Hueee, kenapa postingan ini jadi emosional ya? Hahaha ... biarlah.
Toh ini hanya intermezzo.
Selingan bagi diriku yang dihadang sederet pekerjaan :)

Yuk ah, kembali fokus bekerja. Masalah orang lain, biarlah menjadi masalah mereka.

Aku telah melakukan apa yg harus kulakukan. Dan hasilnya, serahkan pada Tuhan.

Cap cusss

Senin, 11 Maret 2013

Keajaiban itu Ada

Mungkin, saya terlalu mengada-ada jika menganggap peristiwa ini sebagai kejaiban.
Namun, saya sungguh terperangah mengalami kebesaran Allah.

Ceritanya begini.
Saya membaca status seorang teman di FB, sebut saja A,  yang ingin sekali ikut kelas online dongeng,
Kebetulan, si pengampu kelas online ini (sebut aja Mbak Y) memberikan "wild card" kepada satu peserta, untuk bisa ikut kelasnya secara gratis.
Syaratnya, harus mengirim cerpen padanya untuk diseleksi.

Nah, si A ini mengirim dan berharap dia lolos.
Dia benar-benar berharap agar lolos, karena kalau harus ikut kelas dan membayar, dia tidak mampu. Anaknya sedang mengalami masalah kesehatan, dan uang sejumlah itu akan jauh lebih baik digunakan untuk urusan kesehatan anaknya.

Melihat keteguhan niatnya, saya jadi ingin membantu. Diam-diam, saya mencari tahu, berapa sih biaya kelas online itu? Jika masih dalam batas kemampuan saya, saya akan membayari si A.

Saya menghubungi Mbak Y, si pengampu kelas itu. Darinya saya mendapat informasi biaya.
OK, cukup lumayan. Senilai honor menulis dongeng di majalah anak nasional.

Saat saya sholat dhuha, saya memohon agar Allah memudahkan rejeki saya, supaya bisa membantu si A.
Jadi, andaikata si A tidak lolos wild card, dia tetap bisa ikut kelas itu.

Siangnya, saya chatting dengan teman saya yang lain. A very good friend of mine.
Saya cerita, kalau si A pengen ikut kelas dongeng online.
Di luar dugaan saya, teman saya ini, sebut saja Mbak X, malah menawarkan agar si A ikut kelas dongengnya saja. Gratis.

Saya terlonjak. Kaget, sekaligus senang. Mbak X ini trainer yang mumpuni. Tidak ada keraguan dari diri saya akan kualitas tulisannya, dan kualitas metode mengajarnya.
Saya pikir, si A amat beruntung bisa mendapatkan kursi free di kelas Mbak X.

Dan saat saya bilang bahwa saya akan membayar (karena niat awal saya kan memang mau membayari), Mbak X menolak. Beliau bilang, ini bonus untukku. Sebagai teman curhat (mungkin, haha. GR amat ya aku ini)

Saya bilang ke Mbak X, tunggu dulu. Pengumuman wild card dari Mbak Y adalah sore ini.

Daaan, sore ini saya mendapat SMS dari si A.
Isinya mengabarkan, bahwa dia lah peraih wildcard!!

Subhanallah, saya tak bisa berkata-kata.

Allah memberikan rejekinya pada si A.
Allah juga memberikan rejekinya pada saya (nggak jadi keluar duit, haha)

Allah juga memberikan rejekinya pada Mbak X. Paling tidak, kursi gratisnya bisa didonasikan ke peserta lain yang membutuhkan (punya talenta, tapi kurang kemampuan finansial)

Jujur, saya terharu.
Di dunia maya yang saling serang, saling sindir, saling iri, kami menemukan persahabatan.


Kami semua belum pernah bertatap muka.
Kami juga nggak sering-sering banget ngobrol di FB.
Namun, ada keikhlasan di hati kami untuk saling membantu.

Hebat ya? Tangan Allah bekerja. Jika bukan karena DIA, kami semua tak mungkin melakukan semua itu.

Allah itu hebat. Allah itu ajaib. Dia yang Maha Memberi.

Subhanallah, alhamdulillah.

Semoga dengan wild card yang diperolehnya, si A mendapatkan tips dan trik jitu untuk membuat dongeng yang menarik.
Semoga nanti akan banyak karyanya yang menghiasi media di Indonesia, atau dunia buku anak.

Aamiin.




Rabu, 30 Januari 2013

Singapore Trip Day 3 (29 Oct 2012)

Hiyaa ... lama banget ya bikin kisah perjalanan hari ke-3. Maklum, rempong bin remping ^^

OK, hari ke-3 ini kami jalan sendiri. Tanpa Lisa. Dan kami sudah tahu apa yang kami tuju. Horee, kami akan ke Universal Studio Singapore (USS)!

Tiket sudah di tangan, dan kami naik MRT ke Vivocity mall, dan nyambung naik monorail. Gampang! Karena kami sudah tahu jalurnya kan?

Sampai di sana, persis pukul sepuluh pagi. Suasananya hmmm ya rame gitu deh. Heran juga, ini hari Senin lho. Kok ya rame. Tapi kebanyakan orang Indonesia dan Malaysia sih. Ketauan dari bahasanya, hihi.
Lisa, temanku itu, malah bilang kalau Singaporean jarang yang main ke USS. Bule pun jarang, katanya.

Daaan, inilah kami di USS!

Kalau boleh jujur, sebenernya sih nothing special loh di sini. Aku kok lebih suka ke Dufan, atau Batu Secret Zoo alias Jatim Park 2.
USS ini cuma menang karakter-karakter tokohnya.








Seperti yang lain, kami pun bernorak-norak ria dan berfoto. Apa lagi yang lebih penting daripada suatu perjalanan kecuali foto? Hihi :p











Kami keluar dari USS sekitar pukul empat sore, lalu kami bergegas kembali naik monorail ke Vivocity mall. Di sana, kami makan dulu di pujaseranya. Kami sengaja tidak makan di USS, karena harga makanannya mahal-mahal :)
Cukup bawa kue dan snack saja. Kalau air minum sih gampang, banyak water tap di dalam USS.

Usai makan, kami harus segera meluncur ke Mandarin Hotel. Di sana, kami harus menemui teman Lisa yang bertugas di concierge. Untuk apa? Untuk mengambil tiket Singapore Flyer yang sudah dibelikan Lisa untuk kami.
So, bergegaslah kami ke Mandarin naik MRT, sambil terus bertanya pada orang-orang. Di mana letak Mandarin hotel?

Akhirnya ketemu juga, tiket pun di tangan. Dan kami naik taksi meluncur ke Singapore Flyer.







Dan, usai dari Singapore Flyer, hanya kelelahan lah yang tersisa dari kami. Besok, kami harus pulang ke Indonesia. Rasanya, tiga hari amatlah kurang. Saya bertekad akan ke Singapore lagi suatu saat nanti. Mungkin saat anak-anak jauh lebih besar lagi.

Yang saya tangkap, anak-anak masih kurang menikmati jalan-jalan ini. Mereka lelah harus berpindah dari satu MRT ke MRT lain. Maklum, orang Indonesia biasa naik motor ke mana-mana, nggak pernah jalan kaki pula :((

Lepas dari Singapore Flyer, anak-anak sudah tidak mau naik MRT lagi, dan kami pun naik taksi menuju MUSTOFA. Horee, ini toko yang buka 24 jam untuk membeli segala macam kebutuhan.

Memangnya kami mau apa di sana? Beli oleh-oleh dong :)

Kebiasaan orang Indonesia kan gitu ya, ke mana aja kita pergi, pulangnya harus bawa oleh-oleh.

Kami memilih cokelat, dan gantungan kunci, serta beberapa kaos.

Pulang ke hotel, langsung packing, dan tepaaarrrrrr !!

Senin, 21 Januari 2013

"Smart Woman", Harian Surya 20 Januari 2013

Hehehe, sebenarnya saya bukan orang yang kepengen profilnya masuk koran. Apalagi kalau sampai manggil-manggil wartawan, atau minta tolong teman yg punya channel ke media, untuk menuliskannya. Nggak deh :)

Nah, di suatu senja nan merona, muncullah inbox di FB saya. Isinya, permintaan untuk menjadi narasumber di rubrik Smart Woman-nya Harian Surya.
Waks ... curigation dong ya? Apa sih dari diri saya yang layak ditampilkan di rubrik itu? Smart woman? Waduh, itu predikat yang berat lho.

Saya pun "menolak halus". Saya bilang, saya hanya orang biasa. Bukan penulis yang canggih, bukan yang nyastra, bukan pula penulis yang pandai mengajari ini dan itu. Yang saya lakukan hanyalah: menulis, dan meyakinkan semua orang bahwa kita semua bisa menulis.

Jawaban dari jurnalisnya cukup mengejutkan. Katanya, justru saya "biasa-biasa" saja itulah yang  menjadikan saya menarik. Dan, beliau tahu bahwa saya sering "memaksa" orang untuk menulis, dan meyakinkannya untuk menulis buku. Heh? Tau dari mana ya beliau kalau saya ini tukang paksa? Wkwk ...

Singkat cerita, hari Rabu 16 Januari 2013, datanglah Mbak Endah, sang jurnalis. Kami ngobrol banyak, dan lamaaa banget. I was so surprised, Mbak Endah ini ternyata seorang penulis bacaan anak juga! Karyanya, Poksai Biru, bahkan meraih juara II Ikapi tahun 2000 (nggak ada juara I).
Beliau pun meneliti sastra anak untuk bahan tesisnya.

Waduh, saya jadi minder. Wajar dong ya kalau saya minder? Wkwk, saya nggak ada ilmu apa-apa, dan saya baru mulai menulis di akhir 2007.

Tapi Mbak Endah orangnya asyik. Beliau bisa menanyai saya tanpa catatan, Persis orang ngobrol aja :)

Daaan, siang harinya, datanglah fotografer yang memotret saya berpuluh-puluh kali dengan background dan angle berbeda-beda. Bahkan, saya sempat diminta ganti busana segala, Haha. duh ... saya nggak sempet/nggak mikir yang kayak ginian loh.

Akhrinya, dengan busana seadanya, dan wajah tanpa make-up, mejenglah saya di sini.


Fotografernya datang jam 1 siang, saat Edgard sudah berangkat sekolah. Hehe, padahal sedari pagi, Edgard ikut ngobrol ama Mbak Endah. Yaaah, nggak kebagian foto2 deh sulungku itu. Yang beruntung mejeng adalah Gerald :))

Jujur saja, saya kaget ngliat hasilnya satu halaman penuh gini :)) hehe ...

Semoga artikel ini menginspirasi banyak orang (banyak yg kirim email/inbox saya setelah membaca artikel ini), semoga menyemangati, dan semakin banyak orang yang mau menulis bacaan anak untuk anak-anak Indonesia.

Maju terus bacaan anak Indonesia!!

Sabtu, 05 Januari 2013

Singapore Trip - Day 2 (28 October 2012)

Hihi, dasar penulis pemalas ^^
Mau nuliskan perjalanan aja memakan waktu berbulan-bulan. Alasannya sih klise : sibuk, nggak ada waktu, dll.
Kalau saja nggak ingat kalo catatan ini (mungkin) penting buat anak-anakku kelak, rasanya malas deh menuliskannya.

OK. Hari kedua. Minggu, 28 Oktober 2012.

Kami janjian ama Lisa, untuk ketemuan di Vivo City Mall. Nanti, dari situ kami akan naik cable car menuju Sentosa Island. Konon, di sana banyak permainan yang seru buat anak-anak (dan nggg ... ternyata ya biasa-biasa aja, haha).

Kami sampai di Vivo City sekitar pukul 11.00 siang. Dan saat saya telpon Lisa, ternyata dia masih hoaahmm dan bilang mau agak telat aja. Dia menyuruh kami untuk keliling-keliling mall aja dulu. Waduh, keliling mall adalah sesuatu yang tidak saya sukai. I don't like malls.

Tapi ya sudahlah. Akhirnya kami ngider-ngider. Dan berdasarkan informasi dari Febi, ada permainan air gratis di lantai atas. Kami pun ngubek-ngubek mencari, biar anak-anak gak bosen. Dan tralala ... ketemu deh. Lumayan lah untuk sedikit menghibur anak-anak. Meski, Edgard tak terlalu menikmatinya. Wajahnya cemberut melulu. Mungkin karena kepanasan.







Nah, setelah puas main-main, kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu di sekitar situ. Baru kemudian lunch di pujasera di lantai satu (Kopi Tiam Pujasera, dekat dengan pintu masuk Vivo City mall dari MRT station).



Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba! Kami ketemu Lisa, dan kami menuju counter cable car untuk antre tiketnya. Harganya mahal bok! Untuk dewasa, SG$ 29, dan untuk anak-anak, SG$ 20an. Untung, dibayari Lisa (thanks a bunch to her!)





Dan here we go, perjalanan kami menuju ke Sentosa Island dengan menggunakan cable car pun, dimulai. Isman pun mulai grogi. Sedikit-sedikit melongok ke bawah, dan berdoa agar cepat sampai :)

Overall, anak-anak menikmati perjalanan ini.







Setelah sampai di Sentosa Island, kami pun mencari tiket untuk 4 permainan (bebas, terserah mau milih mainan apa). Dan, lagi-lagi Lisa yang bayarin ^^
Entah apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikan hatinya Lisa.
Sementara anak-anak dan Isman main, aku dan Lisa duduk-duduk sambil makan es krim, serta ngobrol banyak hal nggak penting. Persis yang kami lakukan saat kami masih SMA dulu.






















Setelah puas berputar-putar di Sentosa, kami pun pulang kembali ke Singapore. Lalu jalan-jalan di Orchard, sambil makan es krim potong ^^

Dari Orchard, kami naik taksi kembali ke hotel, dan langsung tidur. Zzzzz.

Hari ke-3, rencananya adalah Universal Studio dan Singapore Flyer :)